Rabu, 29 Nov 2023
  • Selamat datang Calon siswa baru di SMK Negeri 1 Kemangkon

Pentingnya Pendidikan Agama Islam bagi generasi Minenial

Pentingnya Pendidikan Agama Islam bagi generasi Minenial

Oleh: Rokhmat Mualim, S.Pd.I

 

Pendidikan menurut Al-Qur’an jelas berbeda dengan pendidikan yang ada dalam masyarakat non-Islam. baik dalam wilayah teoritis maupun praktis, akibatnya melahirkan istilah-istilah pendidikan yang beragam dan berbeda pula. Pendidikan menurut An-Nahlawi berasal dari Bahasa Arab, yaitu dari akar kata raba-yarbu yang artinya adalah “bertambah” dan “berkembang”, atau rabia-yarba, yang dibandingkan dengan kata khafiya-yakhfa. Arti yang terkandung di dalam raba-yarbu adalah tambahan dan berkembang, dan raba-yarubbu yang dibandingkan dengan kata madda-yamuddu berarti memperbaiki, mengurusi kepentingan, mengatur, menjaga dan memperhatikan.

Pendidikan agama tidak boleh lepas dari pengajaran agama, yaitu pengetahuan yang ditujukan kepada pemahaman hukum, syarat, kewajiban, batas dan norma yang harus dilakukan dan diindahkan. Pendidikan agama harus memberikan nilai-nilai yang dapat dimiliki dan diamalkan oleh anak didik, supaya semua perbuatannya dalam hidup mempunyai nilai-nilai agama, atau tidak keluar dari tuntunan atau moral agama.

Pada hakikatnya pendidikan agama merupakan pembinaan terhadap pondasi dari moral bangsa. Hal ini dibuktikan dengan adanya kenyataan bahwa tata tertib dan ketenteraman hidup sehari-hari dalam masyarakat tidak hanya semata-mata ditentukan oleh ketentuan-ketentuan hukum saja, tetapi juga didasarkan atas ikatan moral, nilai-nilai kesusilaan dan sopan santun yang didukung dan dihayati bersama oleh seluruh masyarakat. Kehidupan masyarakat yang berpegang teguh pada moralitas tak bisa diwujudkan kecuali dari pendidikan agama. Sebab moralitas yang mempunyai daya ikat masyarakat bersumber dari agama, nilai-nilai dan norma- norma agama.

Mengingat pentingnya arti dan peran agama bagi tata kehidupan perseorangan maupun masyarakat, maka dalam rangka pembangunan dan pengembangan watak bangsa haruslah bertumpu di atas landasan keagamaan yang kokoh, dan jalan untuk mewujudkannya tiada lain kecuali hanyalah dengan menempatkan pendidikan agama sebagai faktor dasar yang sangat penting.

Pembinaan moral manusia dan penghayatan keagamaan dalam kehidupan seseorang sebenarnya bukan hanya sekedar mempercayai seperangkat aqidah dan melaksanakan tata cara upacara keagamaan saja tetapi merupakan usaha yang terus menerus untuk menyempurnakan diri pribadi dalam hubungan vertikal kepada Tuhan dan horizontal terhadap sesama manusia sehingga terwujudlah keselarasan, keserasian dan keseimbangan hidup menurut fitrah kejadiannya sebagai makhluk individual, makhluk sosial, serta makhluk yang berke-Tuhanan Yang Maha Esa. Pribadi yang seperti ini tidak datang dengan serta merta begitu saja, melainkan harus melalui proses pendidikan yang panjang dimana unsur agama menjadi faktor yang asasi.

Pendidikan Agama Islam merupakan proses untuk mempelajari Agama Islam secara detail dan membentuk karakter generasi milenial menjadi sesuai dengan ajaran agama Islam. Berkaitan dengan kemajuan dan teknologi memang dengan sendirinya akan membantu manusia lebih mampu untuk menguasai dan mengelola alam dengan segala potensinya. Manusia menggunakan rasionalitasnya melakukan kajian-kajian keilmuan dan teknologi, akan tetapi tanpa kemampuan manusia untuk menguasai diri sendiri, kemajuan yang tadinya telah dicapai akan mengancam dan membahayakan diri sendiri. Dalam hal ini kiranya perlu diketahui bahwa agama tidak mengatur ilmu pengetahuan, akan tetapi agama mewajibkan pemeluknya untuk mempelajarinya. Ilmu pengetahuan (science) hendaknya dijadikan alat untuk memupuk dan memperkokoh keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan yang Maha Esa.

Munculnya teknologi yang semakin canggih dapat mempengaruhi pola pikir dan membentuk karakter mereka karena tidak pernah dibekali dengan ilmu agama. Oleh karena itu, Pendidikan Agama Islam menjadi sebuah kebutuhan pokok guna membentuk sikap atau akhlak yang baik (akhlakul karimah) bagi generasi muda. Selain itu, gradasi manusia selain ditentukan oleh penguasaannya atas ilmu pengetahuan juga ditentukan oleh tingkat ketakwaan atau keimanannya pada Allah swt. Hal ini sesuai perintah Allah swt di dalam Q.S Al Mujadalah: 11

 

 

Artinya:“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis, maka lapangkanlah, niscaya Allah swt akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah swt akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah swt Maha teliti apa yang kamu kerjakan (Q.S Al Mujadallah/58: 11)

Ayat di atas menjelaskan bahwa pentingnya ilmu. Dalam buku “Islam Disiplin Ilmu” oleh Amrah Husma, ilmu dalam pandangan Islam adalah suatu kebutuhan yang harus diraih oleh setiap muslim. Karena dari ilmu manusia dapat mengetahui hekikat kebenaran yang sejati. Oleh karena itu kedudukan ilmu dalam pandangan Islam menurut Ulama berdasarkan Al-Qur’an dan hadist adalah wajib.

Generasi milenial adalah generasi yang lahir pada awal 2000. Anak muda sekarang banyak mendominasi dalam semua sektor. Oleh karena itu, Pendidikan Agama Islam sangat penting dipelajari agar generasi milenial ini memiliki karakter yang baik sesuai dengan harapan agama dan masyarakat. Ilmu pengetahuan umum juga penting, namun lebih baik diseimbangkan dengan karakter yang baik.

Sejalan dengan hal itu dan dengan menyadari sepenuhnya akan hakikat pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya, serta sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia yang tertuang dalam pembukaan Undang-undang Dasar Tahun 1945 untuk mewujudkan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, maka Pendidikan pada umumnya dan pendidikan agama pada khususnya mempunyai peran yang sangat strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan sebagai upaya mewujudkan cita-cita Nasional dibidang pendidikan seperti yang ditegaskan dalam Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas, Pasal 3), disebutkan bahwa: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban yang bermanfaat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Bila mengacu pada Undang-undang tersebut di atas, dapat dipahami bahwa salah satu tujuan nasional itu adalah menghasilkan manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Allah swt, tentu hal itu tidak akan tercapai tanpa melalui pendidikan agama. Pada hakikatnya pendidikan agama baru dapat berjalan secara efektif apabila dilaksanakan secara integral. Oleh sebab itu, pelajaran agama merupakan pelajaran inti yang dapat digunakan sebagai landasan dari pelajaran lainnya. Ajaran agama, nilai dan norma agama harus dapat dicerna sedemikian rupa hingga mudah diserap oleh kehausan jiwa manusia terhadap kebutuhan spiritual. Umumnya kelambanan daya serap terhadap agama bukan disebabkan oleh ajaran agama itu sendiri, melainkan oleh karena keringnya cernaan terhadap ajaran agama pada waktu disajikan kepada peserta didik.

Nampaknya, dunia modern seperti sekarang ini merindukan kehadiran spiritualitas agama, namun banyak kalangan masyarakat modern merasakan kurang puas terhadap doktrin-doktrin normatif yang ditawarkan oleh lembaga-lembaga keagamaan yang ada, dengan mengemukakan salah satu alasan bahwa kekurangmampuan pembawa misi agama untuk secara sistemik menyesuaikan ”bahasa” yang dipergunakan dalam diskusi-diskusinya atau pesan-pesannya dengan perkembangan keilmuan dan kemasyarakatan, hal itu menyebabkan ”bahasa agama” terasa kering dan kurang relevan dengan tingkat perkembangan wilayah pengalaman manusia pada abad teknologi industri sekarang ini.

Pendidikan Islam ditujukan untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan pribadi yang luhur, manusia secara menyeluruh melalui latihan-latihan kejiwaan, akal pikiran, kecerdasan, perasaan dan pancaindera. Oleh karena itu, pendidikan Islam harus mengembangkan seluruh aspek kehidupan manusia, baik spiritual, intelektual, imajinasi (fantasi), jasmaniyah, keilmiahannya, bahasanya, baik secara individual maupun kelompok serta mendorong kearah kebaikan dan pencapaian kesempurnaan hidup.

Membangun jembatan dan mendidik anak adalah proses yang sama-sama mempersiapkan menuju arah masa depannya. Orangtua pasti menyadari betul bahwa mereka tidak dapat mengendalikan setiap waktu dalam peristiwa yang dilakukan oleh anaknya. Oleh karena itu, hal yang bisa dilakukan adalah mempunyai keahlian dan kemampuan menghadapi setiap peristiwa yang ada dengan menanamkan karakter yang baik kepada anak generasi milenial. Hampir 64% orangtua kurang memperdulikan anaknya salah dalam pendidikan agama, ada yang peduli dan mencoba disekolahkan ke Lembaga Pendidikan Agama Islam, namun orangtua sendiri tidak memberikan contoh dari penerapan yang diajarkan oleh agama. Apabila orangtua ikut serta memberikan contoh dan menerapkan maka anak akan mengikuti apa yang menjadi kebiasaan orangtua.

Generasi milenial itu memiliki potensi yang luar biasa dan menguntungkan bagi kemajuan Bangsa dan Negara. Dengan catatan apabila generasi tersebut dibimbing dengan Pendidikan Agama Islam yang seimbang dengan ilmu umum. Ada beberapa fenomena yang menunjukan kemajuan yang baik dan diminati masyarakat dengan gejala kemajuan terjadi pada beberapa Lembaga Pendidikan Islam sebagai bagian dari proses santrinisasi dan kebangkitan Islam. Minat masyarakat muslim terhadap Lembaga Pendidikan Islam belakangan ini berkurang, khususnya masyarakat yang hidupnya di wilayah perkotaan. Mereka tidak serta merta memasukan anaknya ke Pondok Pesantren atau Madrasah, akan tetapi mereka melakukan seleksi.

Seorang pada waktu kecilnya tidak pernah mendapatkan Pendidikan Agama, maka pada masa dewasanya nanti tidak akan merasakan pentingnya agama dalam kehidupannya atau bahkan kurang peduli terhadap agama. Perkembangan agama pada generasi milenial terjadi melalui pengalaman hidupnya sejak lahir, keluarga, sekolah, masyarakat dan yang terbaru adalah mereka mendapatkan dari internet. Semakin mereka banyak pengalaman yang bersifat agama, maka tindak kelakuan dan cara menghadapi hidupnya pun akan sesuai dengan ajaran agama yang didapatnya. Karena posisi agama menjadi pondasi awal mereka dalam bersikapnya dalam kehidupan sehari hari.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

An-Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat, Terjemahan Shihabbudin, Gema Insani Press, Jakarta 1996, hal. 20

Zakiah Daradjat, Kesehatan Mental, (Jakarta: PT. Gunung Agung, 1985), Cet. XII, hal. 131.

UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS dan PP No. 47 Tahun 2008 tentang Wajib Belajar, (Bandung: Citra Umbara, 2008), Cet. 1, hal. 6

Muhammad Tholchah Hasan, Diskursus Islam dan Pendidikan; Sebuah Wacana Kritis, (tt.p. PT. Bina Wiraswasta Insan Indonesia bekerjasama dengan Lembaga Indonesia Adi Daya, t.t.)  hal. 108

Ainul Muchammad Yaqin, Pendidikan Islam, 2018, vol.9

Amir, Jusuf Fisal, Reorientasi Pendidikan Islam (Jakarta:Gema Insani Pers, 1995)

Ari Widodo, Eko, Nuansa, 2014, vol. 11

 

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR