Info Sekolah
Jumat, 23 Jan 2026
  • Selamat datang di website SMK Negeri 1 Kemangkon
  • Selamat datang di website SMK Negeri 1 Kemangkon

Budaya Literasi yang Tergerus di Tengah Ledakan Konten Instan

Terbit : Rabu, 21 Januari 2026 - Kategori : Artikel

Di era digital saat ini, masyarakat hidup dalam arus informasi yang mengalir tanpa henti. Media sosial, video pendek, dan konten instan menjadi konsumsi harian yang sulit dihindari. Informasi datang dalam hitungan detik, tetapi sering kali pergi tanpa sempat dipahami secara mendalam. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius: budaya literasi perlahan tergerus oleh kebiasaan serba cepat dan dangkal.

Konten instan memang menawarkan kemudahan. Dalam beberapa menit, seseorang dapat mengetahui banyak hal tanpa harus membaca panjang. Namun, kemudahan ini juga membawa konsekuensi. Banyak orang kini merasa cukup membaca judul atau menonton potongan video singkat tanpa memeriksa kebenaran dan konteks informasi. Akibatnya, kemampuan berpikir kritis melemah, sementara penyebaran informasi keliru semakin sulit dibendung.

Literasi sejatinya bukan sekadar kemampuan membaca teks, tetapi kemampuan memahami makna, menganalisis informasi, serta menarik kesimpulan secara rasional. Ketika masyarakat terbiasa dengan informasi instan, proses berpikir mendalam sering dianggap melelahkan dan tidak menarik. Membaca buku atau artikel panjang dipersepsikan sebagai aktivitas yang membosankan, kalah bersaing dengan hiburan cepat yang ditawarkan layar gawai.

Namun, menyalahkan teknologi semata bukanlah solusi. Teknologi bersifat netral; manusialah yang menentukan bagaimana ia digunakan. Justru di tengah dominasi konten instan, literasi menjadi semakin penting sebagai alat penyaring informasi. Tanpa literasi yang kuat, masyarakat mudah terombang-ambing oleh opini viral, propaganda, dan sensasi sesaat.

Oleh karena itu, upaya membangun budaya literasi harus dilakukan secara sadar dan kolektif. Dunia pendidikan perlu menggeser pendekatan pembelajaran dari sekadar mengejar nilai ke pembentukan kebiasaan membaca dan berpikir kritis. Sekolah dan kampus harus menjadi ruang dialog, bukan hanya ruang hafalan. Di sisi lain, keluarga memegang peran awal dalam menanamkan kecintaan membaca melalui teladan dan kebiasaan sederhana di rumah.

Media dan kreator konten juga memiliki tanggung jawab moral. Konten yang informatif dan berbobot perlu dikemas secara menarik agar mampu bersaing dengan konten hiburan instan. Literasi tidak harus kaku dan membosankan; ia bisa hadir dalam format digital yang relevan dengan generasi masa kini tanpa kehilangan kedalaman makna. Pada akhirnya, pilihan ada di tangan kita. Apakah akan terus menjadi konsumen pasif konten instan, atau berupaya membangun kembali budaya literasi yang mencerdaskan? Di tengah derasnya arus informasi, literasi adalah jangkar yang menjaga masyarakat tetap berpikir jernih. Tanpa literasi, kemajuan teknologi justru berpotensi menjauhkan manusia dari esensi pengetahuan itu sendiri

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar